Jumat, 23 Desember 2022

Mengulang Masa

 

Foto ini diambil bertahun - tahun silam, wajah ummi tidak banyak berubah, tapi hari - hari terakhir wajah ummi terlihat lebih cerah, entah kesehatan ummi yang memang bertambah atau justru sungguh kebahagiaan dalam naungan ketenangan dari-Nya yang sedang bertumpah.

Aku bingung menuliskanmu dari mana, bagian mana, sebab kamu adalah candu yang tak mampu aku hentikan, tak akan ada kata usai, tak ada yang mampu selesai.

Dewasa ini, aku bahkan tetap gadis kecil ummi, sehebat, sekeren setegar apapun langkah aku tanpa ummi tau, di depan ummi aku akan tersungkur, merengek manja sebagaimana tahun - tahun lalu, menjaga warasku bahwa di kejam dan kerasnya dunia ini, lembut lenganmu menjadi pelindung dan penguat. Tidak tahu sudah berapa tusuk tertancap, tameng itu masih terpasang kokoh, kalaupun aku terlanjur terluka, kamu yang sanggup cabutkan duri - duri itu meski tanganmu pun ikut berdarah.

Dari sekian banyak pinta di dunia ini, dari sekian banyak yang sudah kita langitkan, satu ini adalah yang paling dalam; suatu hari, aku tetap lagi berkesempatan untuk memeluk erat tubuhmu, menatap lekat matamu, bersisian menertawakan dunia yang sering kali membuat kita menangis. Hari itu, di taman indah yang di bawahnya mengalir sungai - sungai.. Menanti janji Allah yang sangat nyata itu, sangat dekat itu..

Sebab harap tinggi nan dalam, sebab tidak mudah meraihnya.. berkilo meter raga kita semua berpisah, apabila jauhnya kita semua memberikan kedekatan pada pemilik kunci taman indah itu.. maka mari sama - sama kita saling menguatkan lewat doa - doa resah, agar jauh kita hari ini, justru yang akan mendekatkan kita di hari - hari itu.. yang bahkan satu jamnya beratusan tahun perbandingannya dengan kehidupan bumi yang kini sedang kita tapaki.

Pada tubuh mungil nan ringkih ini, yang dahulu susah payah kau kandung, kau besarkan, kau didik segala macam rupa, rela kau antar melintas udara dan lautan, di dalam mungilnya ada jiwa besar yang kokoh sedang bertumbuh, meniti hari - hari pembuktian bakti.

Pada riuh kepalanya, pada gelisah hatinya, kita saling berharap kesehatan dan keselamatan, kebahagiaan dalam kebaikan, selalu menyertai.

Padamu ummiku sayang, yang jutaan dan milyaran kali maaf dan terima kasih aku ucapkan, tak akan pernah sebanding dengan seluruh rasa yang kau korbankan.


18.01 CLT

Dari putri kecil ummi yang rindu ditimang.

Rabu, 26 Januari 2022

Mari Bercerita #Penerbangan2

Bersama langit hitam legam
awalnya kukira tenang kan kugenggam
nyatanya aku bersama laut di bawahnya, karam

Tenang, masih ada bintang
ternyata sinarnya bukan sekedar terang
tidak begitu menyilaukan, tapi sanggup meluluhkan

saat berkesempatan berjejeran dengan bintang
aku mengetuk jendela pesawat,
saling melambaikan sinar.

selamat menerangi, kalian!!

sampai di loket Qatar, pembuktian tawakkal detik detik lalu. aku hanya punya surat pcr, tidak ada vaksin, tidak ada e - hack, memasang wajah tenang, petugas petugas itu saling bertanya, apakah negaraku akan menerima atau tidak kedatangan gadis kecil ini.


Senin, 24 Januari 2022

Mari Bercerita #Penerbangan1

Seperti lautan yang sudah meninggi ombaknya, 

Tak sabar menghantam seluruh rakyat pesisir pantai penuh onar,

menghancurkan, menghanyutkan jiwa jiwa.


hei, sabar.

air mata mu masih sanggup kok, buat bertahan jadi bendungan

jangan men-tsunamikan manusia,

kamu tak perlu jahat kepada siapapun, apalagi dirimu sendiri.


pertama kali menerima fakta, bahwa penerbangan ini saya sungguhan tidak membawa telepon genggam yang dapat diandalkan untuk berkabar.

aku masih punya kedua tangan untuk menengadah pada Tuhanku.

tiket penerbangan Cairo - Doha, juga Doha - Jakarta sudah dicetak, -yang harusnya cukup dengan e - ticket-, bersyukur sekali aduhai bagaimana kalau aku tak bertemu dengan manusia manusia penguat hati.

Azwa, Kak Athieva, Kak Aidah, Mba Anggi. Adiknya.

menenangkan di detik detik aku kehilangan tenang.

jadwal take off jam 19.45, sedang jam 16.00 koper koper masih terbuka, luka di hati makin ternganga, mulut mulut jahat manusia tak ada habisnya, tangan mereka bisu, lidah mereka menusuk tak tahu malu.

aku tak tahu bagaimana, menghentikan rasa "ingin terus menangis" di dalam dada.

selain mengingat langit, yang akan kubersamai berjam jam nanti, lebih dekat dengan pemilik bumi, pemilik hati.

sampai di Bandara, aku menelfon umi, berkabar seadanya, menahan tangis pastinya.

masuk ke dalam pintu terbuka otomatis yang dijaga petugas, dengan sekian ragu, menggenggam barang kotak menyala milik Azwa yang tertimbun bulan bulan lamanya, menyimpan dua foto screenshoot check -in di galeri saja sudah tak mampu, apalagi menyembuhkan lukaku.

aduhai, mau sampai kapan kau sebut dia obat?

mendorong trolly bermuatan dua koper dan satu tas penuh buku, berat sungguhnya, ditambah dengan beribu kerisauan hati yang melemahkan jasad. melambaikan tangan pada mereka yang juga ikut risau, sebab 30 menit lagi, harusnya pesawat yang akan kunaiki sudah tidak di tanah, dan aku bahkan baru menginjak gedung bandaranya.

katanya, aku harus ke kanan. di mobil perjalanan tadi, aku berusaha sekuat mungkin untuk memasukkan ke kepala seluruh himbauan kak ira untukku di bandara nanti, yang kuingat hanya ke kanan dan ke kanan.

ternyata aku harus melewati x - ray dulu sebelum menuju loket Qatar Airways yang katanya di kanan. nyatanya, 5 menitku habis untuk pergi ke kanan sebelum masuk di x - ray, sampai kanan nya habis dan aku tidak menemukan keramaian, bahkan loketnya, tidak sama sekali.

setelah x - ray pertama, aku di bantu oleh seorang petugas Mesir yang daritadi melihatku celingak celinguk keraguan, sebelum memindahkan barang barang yang sudah di x ray kembali ke atas trolly, ternyata dari sekian barang milik orang orang, hanya barang yang kubawa yang membuat mata petugas x - ray curiga, akhirnya koper putih kecil, koper putih besar yang sudah terbalut cover bag dengan rapih, dan susah sekali di tutup karena kepenuhan, akhirnya mereka buka, untung sekali waktu menyusun tadi sudah aku siasati agar tidak menaruh barang barang "aneh" milikku di bagian atas, meskipun terperiksa sedikit dan kelihatan, aku memasang muka tebal, menahan malu yang beribu.

yang paling menegangkan, saat tas yang penuh dengan buku titipan markaz, takut sekali ada yang terlarang, meskipun sudah ditenangkan sebelum berangkat tadi, wajah mereka saat menilik satu satu buku yang ada, judulnya, halamannya, dibolak - balik, merapalkan sekian tawakkal, banjir pada bibir. mereka menyudahi pemeriksaan itu karena antrian x - ray yang penuh.

petugas mesir yang tadi membantuku, masih disisi, membantu menutup koper yang kepenuhan, membaju-i-nya lagi meski terbalik, mengangkatnya ke atas trolly, mendorongnya, lalu mengajak berbicara aku yang masih- terlihat -tidak tenang.

 bertanya sekedarnya, seharusnya dalam seni berkomunikasi aku masih bisa menjawab lebih, tapi risau menyelimutiku, entah kenapa, aku kalah pada ragu.

aku meminta di tunjukkan tempat wrapping, mengingat tas buku yang sangat ringkih karena aku dan azwa meng-selotip-inya dengan sedikit rasa prihatin tadi siang, tidak kuat, karena dengan tidak penuh semangat. belum lagi mengingat 2 koper putih murah yang aku beli bersama abi, impor-an dari batam. seharga satu juta dapat 3. "enak dong, dapat tiga." haha, enak sih, deg degan iya.

aku hanya punya dua lembar 100 pound terakhir, belum lagi tadi saat mobil yang kami naiki ditilang karena berkaca hitam, ah iya, itu juga yang membuat aku telat. dan itu, belum terbayar.

satu lembarnya untuk wrapping, setelah diangkat kembali ke trolly, petugas tadi masih mengajakku bercanda, sedikit tidak kutanggapi ,dan akhirnya di akhiri dengan "kamu kenapa toh? aku ajak bicara diem aja, cerita yang banyak gitu kan enak nah, hehe." aku hanya tersenyum, ia mengira aku tak terlalu pandai berbahasa arab, aku ingin bilang, "bukan paman, bukan tak pandai berbicara, aku hanya tak pandai menutupi payahku kali ini, kali ini saja."

ia mengantarku sampai di antrian loket Qatar yang masih lumayan panjang, untungnya ada beberapa orang indonesia yang setidaknya menjadi incaran, saat himbauan teman teman dan ummi sebelum ini, untuk "CARI ORANG INDONESIA, MINTA DIBARENGI SAMPAI DI JAKARTA." 

kandas, nyatanya tak begitu, mereka juga dengan risau risau mereka sendiri, beberapa kali berpapasan mata, tapi sorot matanya tak meyakinkan, membuat aku menampar yakin lagi kepada diri sendiri, memasrahkan seluruhnya lagi, pada Ilahi.

petugas mesir tadi, meminta upah, dan di dompetku hanya tersisa satu lembar, 100 pound, tak ada lagi selain itu. dan- tidak mungkin aku minta kembalian.

setidaknya ini jadi tawashul untuk meminta kemudahan, iya kan?

teringat, pertanyaan mba Anggi tadi; "bawa uang pound banyak kan fa?", "emm 2 ratus doang mba, buat wrap,." "haduh, takut ghoromah," -denda karena pulang tanpa iqomah(izin tinggal, yang nilai dendanya 1000 pound setiap bulannya. sedang izin tinggal terakhir saat pertama kali masuk ke Mesir, setahun yang lalu.) tawakkal lageh.

aku menunggu dengan ribuan dzikir, mencari cincin hitam penghitung, menjadi pengingatku untuk terus mengingat-Nya, merapihkan setelan terbaikku selama di Mesir ini, sepatu putih baru dicuci, gamis merah muda, pashmina pink pastel, juga blazzer warna khaky punya LC waikiki, baru dipinang belum 48 jam yang lalu. menaruh rapih Qur'an saku di kantong dada. aduhai, sayang sekali tak ada kamera yang mampu dan mau untuk mengabadikan momen -terkece- ini, harusnya. memasang muka setebal mungkin agar kelihatan bahagia, agar ikut bahagia juga pastinya.

kata mereka : "yuk disenengin hatinya, ya."

-padahal rela tak semudah kataa. 

tak perlu khawatir ku hanya terluka, 

terbiasa tuk pura pura tertawa~

runtuh - fiersa, feby.

aku melihat orang Indonesia yang tadi kuincar untuk berkenalan sedikit kualahan saat di depan loket, sesuai duga, tidak begitu meyakinkan untuk disandari, dan di benalu-i.

aku sedikit tercengang dan melamun, saat di antrian, membuat ibu ibu di belakang meneriakiku yang tengah memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi, berteriak, membuat buyar dan segera melaju ke petugas pemeriksa, meninggalkan seluruh lamunan yang lebih bisa disebut suudzon. mengusirnya, menggantinya lagi dengan banjiran doa.

melihat jam, 15 menit lagi waktu boarding, belum selesai check - in, belum taruh bagasi, belum naik ke lantai dua, belum ke imigrasi. jeng jeng.

sesampinya di loket Qatar....

...bersambung...

Selasa, 07 Desember 2021

Arendelle

 Sudah kuduga, Puas begitu kau cium aku?


Aku, Rumah, katamu.


Ketuklah sepuasnya, aku akan tetap disini berjuang menutup rapat rapat pintu ini, ku buka nanti ketika serius ayahku yang ingin ditemui, lantas akad membersamai.


Silahkan, jika itu tidak perlahan membunuhmu, aku akan menikmati setiap irama ketukan itu, juga ucapan dan kecupan manis yang kian berbekas.


Atau jika lelah, aku izinkan untuk saling bersandar di pintu itu, seperti Anna yang menunggu Elsa untuk keluar, tapi begitulah kita, menganggapmu layaknya adik tersayang.


Nanti, di perjalanan, jangan lupa singgah di toko untuk membeli baju penghangat, bertemu Kristoff yang setia bahkan pada seekor Rusa, aku akan disini, menikmati dunia es ku yang dingin, istana yang kubuat dengan cinta saat usai berdamai denganmu dan Arendelle, aku menikmati dunia dan seribu mimpiku membahagiakan manusia manusia lain. Aku belum begitu haus dengan bangunan cinta yang kau bangun dengan Kristoff.


Disini aku, untuk tetap menutup pintu. Sebab nanti, jika kubuka, tidak hanya ingin aku digandeng atau digendong seperti katamu, tapi aku ingin memilih berjalan bersisian, lalu berlari girang, bersama layaknya anak kecil yang mendapat sepasang balon gas gratis. Agar luas aku menarik tangan itu ke tempat yang aku mau, bukan yang kamu mau.


Aku menikmati candamu, percayalah semua kesenduan aneh itu candu, tapi aku tak akan pernah lelah untuk membunuh ribuan rindu.

Karena aku percaya, ketukan itu hanya akan jadi gema, tak akan berupa nyata, kamu mengetuknya hanya untuk bercanda kan?


Percayalah, aku bukan rumahmu.


Tapi tak apa, jika ini tidak membunuhmu, singgah ke sebuah villa anggun di lereng pegunungan, setiap akhir pekan bertolak kesini, baring di pangkuku untuk membuang penat hiruk pikuk kota, singgah kan? aku berikan kamu kopi buatanku, bukan hati berhargaku.


Seindah apapun aku dimatamu, aku bukan rumah. Aku hanya pelampiasan penat yang memang kamu butuhkan, tapi akan ada dia disana. Yang dengan rela menemani senang atau sedihmu.


Aku bisa jadi tempatmu berbulan madu, atau tidak, kamu akan memilih destinasi indah lain yang lebih mahal harganya dari villa tua yang setia ini. 


Atau bila aku sepenting itu, aku bisa jadi gelas yang dicumbu sepasang kekasih di tempat yang sama. Begitu bukti sayangku, melihat kebahagiaan hadir di bibir bibir itu.


Ah, aku gelasmu, sebab itu ada bekas bibirmu disini.

Tidak akan pernah jadi rumahmu, aku hanya villa tua tempat melempar rindu.

Senin, 19 Juli 2021

Bunda

Bunda..

Gadis kecilmu sedang terluka...

Binasa ia

Dihancurkan oleh tangan mungilnya

 

Bunda..

Kapan ia bisa pulang?

Berhenti berjuang, mengemis kasih sayang

 

Bunda..

Jemarinya tak berbentuk

Ia seakan terkutuk

Lututnya terus tertekuk

Diujung sana ia duduk, terpuruk

 

Bunda..

Sejauh ini berlarinya begitu cepat

Satu dua, ia tersesat

Bertubi tubi jatuh dan terjerat

Tapi luka membuatnya semakin kuat

 

Duri tertusuk dalam

Dunia semakin kejam

Hari harinya hanya menunggu malam

Menanti kelam, muram, tenggelam

 

Gadis kecil, bertahanlah

Betapa menantinya sebuah indah

Lihatlah,

Akan ada hari senyummu tak kan musnah

Bahagia tak berkesudah


Senin, 31 Mei 2021

31 Mei

Selamat.

Untuk seluruh apapun yang berbahagia hari ini.

detik ini, disaat yang sama.
ketika kamu berbahagia atas segala yang kau pijak
aku pun berbahagia dengan sebuah pilihan bijak

Ikhlas.
Membunuh seluruh rasa, lepas

Janji,
untuk pergi, melupa semua sepi
yang kau, pernah singgah mengisi

Selamat untuk menjalani sisa
selamat untuk mengabdi pada agama
selamat berkurang, selamat berjuang

jua,
selamat tinggal, semua

16.03 CLT, 31 Mei 2021

Senin, 19 April 2021

Tentangku #1



 

Di keheningan radar

Tangisannya terdengar

Isakannya menggelegar


Aku, habis tertampar


Gadis sok dewasa ini sedang–

Diminta pertanggung jawabannya tentang–

Sudah sejauh mana ia berjuang

Sudah sekuat apa ia menyerang

Seluruh musuh yang menghadang


Ia merintih, bersedih

Detik detik tersirat ia ditagih

Mana benarnya jalan yang ia pilih

Kemana perginya terima kasih?

Dimana syukur yang rapih?

Dimana sabar yang selama ini ia latih?


Nak, Lekas!

Kita harus bergegas!

Satu dan dua, hargai nafas!

Tangkap tangisan lepas!

Bukankah sudah puas?

Lekas, waktu kita terbatas!


Kita manusia kuat

Tuhan mengirimkan kita ribuan tekad

Dia sedang mendekap kita, hangat


Demi ummat..

Hei gadis kecil, kumohon semangat!

Rabu, 14 April 2021

Kita Tidak Sempurna

 



Aku mulai terseok seok
Di jalan tempatku berbelok
Jatuh air mataku disana, kapok
Ah, ini sebab aku menengok

Ribuan kali aku diserang
Ribuan kali jua aku menentang
Di sekitarku orang orang—
Berbahagia, bersenang senang

Ini tentang ketidak mampuan manusia
Yang berharap pada dirinya
agar bisa jadi yang paripurna.

Ini tentang kejahatan seorang insan
Pada dirinya ia gantungkan ribu harapan
Sebab harap kepada selain tuhan–
Berujung kekecewaan

Binasa ia.
Dihancurkan kegagalan
Dimakan angan angan

Hei!
Kita bukan pencipta!
Suka atau duka, harus kita terima
Perihal akhir, bukan kehendak kita
Berserah dirilah pada yang Kuasa

Banyak hal misteri
Yang manusia, suka sok ngerti
Contohnya
Berkespaktasi sempurna
pada diri sendiri
Padahal ia paham sekali
Lemah adalah sifat manusia sejati

Jatuhlah ia, di kerumunan manusia–
Yang penuh tawa
Yang tak ada kecewa
Sebab mereka menerima
Kurang lebih dirinya

Hei, terimalah
Berserah dirilah
Setelah lelah, pasrah!
Bukan menyerah!

Kita insan.
Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

#diksiharian004

Ramadhan Day 2



Definisi Nikmat Kita Berbeda


 "Ih gak nikmat banget sholatnya"


Celetukku usai salam witir tadi malam.

Baru aku faham, bahwa nikmatnya berdiri lama lama sampai kaki bengkak, di malam malam sendu seperti yang diriwayatkan Fatimah tentang Rasulullah bila sholat malam, Memang ternyata bukan sembarang orang yang bisa merasakan "Nikmat" yang beliau rasakan.

Aku menjadi imam tarawih 1 juz di malam pertama Ramadhan ini, kebetulan sisa juz yang tidak di pilih oleh teman temanku adalah juz 21, yang yaaah dari dulu memang.. sangat.. perlu di bersamai.

Masjid nabawi adalah sebutan kami pada kamar yang kami tempati untuk sholat tarawih, adapun jamaah lain, di ruang tengah, kami menyebutnya Masjidil Haram, hahaha, bikin merinding cuy kalau udah ada yang nanya gini;

"Ntar malam masjidil haram siapa yang imam?", atau
"Siapa yang bersihin masjid nabawi abis tarawih?"
Wadaw, jadi marbot dong 😆ah gapapa di masjid nabawi inii, wkwk.

Aku mengimami dengan bacaan Syu'bah di juz 21, dannn baru teringat kalau aku imam sekitaar 5 jam sebelum adzan isya, haha bisa di bilang ga ada persiapaan, asal corat coret Qur'an dengan stabilo biru pada wajah wajah yang ada riwayat Syu'bah nya, lalu tancap gas sholat tarawih 1 juz, dibagi 1 lembar setiap roka'at nya.

Paginya, aku baru saja memulai setoran dengan 3 Qiro'at lain, Ibnu 'Amir, Kisai dan Kholaf, daan semakin menjadi jadilah tuntutan untuk setoran muluuus seperti air mengalir tanpa jeda, tajwid yang benar, bacaan yang tartil.

Dulu, selama menghafal, aku langganan imam tahajjud spesial dari 3 juz sampai 5 juz, karena bacaanku dikenal cepaat sekali seperti kilat, bahkan ada yang bilang

"Aku ga pernah ikut sholat tahajjud spesial kalau bukan Azfa yang imam"

Alamak 😩🤭
-yaps, sholat tahajjud 5 juz bisa selesai  kurang lebih 2 jam-

Tapi, 3 bulan terakhir, selama memulai membenarkan bacaan dan mengambil sanad qiroat, aku mulai merasakan betapa tidak nyamannya membaca Qur'an secepat itu, mulai ngerasain nikmat nya baca pake tahqiq Mad Muttasil 4 Harokat, Mad Lazim fuuul 6 harokat

Nikmaaaat banget. Serius ✌🏻.

Nah, semalem itu tabrakan, teman temanku belum semua selesai tasbit hafalan quran dan belum mengambil sanad qiroat, jadi, ya

Definisi Nikmat kita berbeda.

Mereka menuntutku untuk mempercepat bacaan lagi, agar bisa langsung sikat gigi, lalu pergi ke alam mimpi.

Satu dari jamaahku yang juga sudah merasakan definisi nikmat yang sama denganku menyeletuk

"Ayolah, baru malam pertama, di pasang sabar nya kuat kuat."

Semalam itu, aku hampir menangis
Bagaimana tidak?
Di saat aku terpaksa mempercepat bacaanku yang sangat tidak nyaman, di detik yang sama aku mendengar bacaan imam dari guruku. Dan, Nyamaaan sekali :'(

Bayangkan? Menikmati setiap kata kalam ilahi, di malam pertama bulan suci, yang penuh diberkahi, bayangkan itu hey kawan! bayangkan betapa nikmatnya ituu!

Ah, sudahlah.

Di belakang apart kami, adalah masjid yang diimami oleh guru yang kepada beliau lah aku melewati nikmatnya proses panjang membenarkan bacaan sesuai dengan yang Allah turunkan, seperti yang Rasululllah bacakan.

Makanya, kalau sholat
Jangan berdiri pakai kaki, berdiri pakai iman.

Sekian.

#diksiharian003

Spring in Cairo, Ramadhan Day 1

Minggu, 11 April 2021

Kebesaran

 


Hari ini, aku belajar tentang sebuah hal


Bahwa,

Berjalan dengan Sepatu Besar
Tidak membuatmu bisa Mengejar.

Setelan bajuku biru biru, sepatuku skeachers Hitam, lengkap dengan kacamata Roybon, kw RoyBean yang ku beli ketika Rihlah Hurghada. Sedang Kak Ira, seperti daun, gamis hijau muda dipasangkan dengan jilbab hijau tua, kacamata hitam swatch, dan sepatu skeachers biru dongker. Kami bertukar sepatu di bawah kubri, sebelum naik bis besar menuju tempat yang kami tuju. "Biar lebih mecing"

Ukuran sepatuku 38, sedang Kak Ira 41, haha jauh memang, tapi Kak Ira masih bisa memakai sepatuku, sedang aku, merasa nyaman saja dengan sepatu yang "Kebesaran". 

Singkat cerita, kami menyusuri trotoar sepanjang jalan raya menuju Masjid Azhar, untuk membeli kitab titipan guru kami di belakangnya, dan anehnya, Azfa yang sangat lincah ini, kehilangan langkah, tertinggal jauh di belakang.

Selain karena kelelahan pagi kemarin squad hingga otot paha tegang, malamnya di tusuk oleh angin kencang, karena kami pulang dari Hadiqoh Dauliyah sekitar jam 11 malam. Naik dan berputar di ayunan setinggi rumah, biang lala, habis dimakan angin malam. 

Aku membiarkan mereka meninggalkanku, Kak Ira dan Ilma, biarlah, biar aku menikmati hal berlebihan yang aku pakai siang ini, hahaha.

Aku teringat cuplikan badut di pinggir jalan, entah aku lihat dimana, dengan rambut warna warni, hidung tomat, dan ya, seperti yang aku pakai sekarang "Sepatu Kebesaran" membuat ia sulit berjalan. 

Hey, benar bukan? Hahaha

Ditambah dengan tugasnya menghibur orang lain, maka ia akan lebih berjalan lambat lagi, menahan diri, agar semua orang bisa tertawa menikmati.

Begitu tugas badut.

Sedang kamu, wahai penuntut ilmu.
Atau siapapun dengan mimpi beribu ribu.
Siapapun kamu dan puncak yang kamu tuju.

Tugasmu hanyalah;

Satu,
Di perjalanan menuju tujuan
Jangan pakai hal yang berlebihan
Itu mempersulit langkah, 
Memperlambat datangnya mudah!

Dua,
Tugas kamu adalah fokus dengan apa yang kamu tuju
Bukan berhenti, dan menghibur orang di sekitarmu
Kamu, tak perlu terlihat indah
Tak perlu tercipta menang atau kalah

Sekian.

#DiksiHarian002

Spring In Cairo, 20.54


Minggu, 28 Februari 2021

Segala Hal


Ah, sungguh Cinta Allah pada hamba-Nya
Sungguh, tak kan pernah tertandingi

Perenunganku tak usai usai, sebab tragedi sedih tak berkesudahan di awal bulan membuat akhir bulan ku kacau, ada pencapaian yang belum tergapai. Target yang tak selesai, dan satu, aku mendapati pikiran yang tak sesuai.

Hah, sudah sudah cukup peratapannya, mari bangun, bangkit dan berlari, sungguh disana, disana, Ridho Allah menanti.

Ya, kitab hijau ini, adalah kitab saku yang berisi matan matan tajwid, penunjang cintaku dengan Qur'an, aku janji akan menghabiskan kebersamaan di januari. Sedang ada masalah pada diri, pada hati. Kecewa dengan diri sendiri sempat menghampiri, tapi sekali lagi, kalau bukan aku yang mencintainya, siapa lagi?
 Aku mengubah untuk bisa menghabiskannya akhir Februari.

Qodarullah, detik ini, di awal Maret ini, masih ada ratusan bait menunggu untuk di bersamai, dan sekitarku, guruku mulai menagih.

Allah mengatur segala urusan hambanya sedetail mungkin.

Pekan pekan ini adalah pekan ujian bagi Mahasiswa Azhar, namun berbeda dengan aku dan teman teman sekelasku di Mutaqoddim Ma'had Bu'uts, jadwal ujian kami belum turun, karena memang katanya kami harus menunggu sampai turun jadwal ujian akselerasi, barulah aku akan kebakaran dengan seluruh materi yang belum pernah otakku kenali.

Maka, pertemuan dengan Syekh di hari ahad, akan kami ambil alih, sekitar enam sampai tujuh orang yang memang seluruhnya adalah santri tahsin dan qiroat, yang bisa menghabiskan sejam dua jam untuk sendiri,
 ah nikmat apa lagi yang kau dustakan hei?

Syekh menyuruhku menyiapkan lima sampai enam juz dengan bacaan Imam 'Ashim untuk di setorkan di hari itu, dimulai dari juz 21 dan lima juz setelahnya.

Mendengarnya :)
10 juz terakhir itu Doi, yang sungguh sampai kini, aku belum berdamai lagi.

Tak apa, ini kasih sayang Allah, agar aku bisa berlari mengejarnya, membersamainya tanpa henti, dann mengubahnya menjadi yang paling tertancapp dalam hati.

Sedang masih ada Matan Salsabil berwarna hijau yang juga menunggu, jadi ku mulai lari ku, sungguh, meski sudah sangat terlambat.

Aku memutuskan untuk menghabiskan siang hingga adzan maghrib berkumandang untuk mengejar matan, lalu menyiapkan setoran di malam harinya. Tapi aku candu, target nya belum tercapai hingga maghrib, buku kecil hijau ini masih di genggaman, sampai terhantui fikiran ku kekhawatiran tentang rawannya 10 juz akhir itu.

"Tapi aku udah ngelancarin ini dari berminggu minggu lalu" gumamku.

Hei fa, justru itu.

Sampai pada akhirnya aku terburu buru dengan adzan isya, menaruh buku ini sembarangan dan mengambil air wudhu.
Selepas sholat aku mencarinya, untuk melihat satu atau dua bab lagi, tapi kandas

Aku mencarinya dengan kacau, padahal aku yakin sekali rak hitam adalah pendaratan terakhir.

:D sepertinya disembunyikan Allah,
Agar aku tidak menggantungkan juz 21, Tuhanku paham benar keadaan otak ku, sungguh paham benar.

"Baiklahhh, akan kubersamai engkau wahai 10 juz terakhiiir"

Omong kosong, kasur tergelar lengkap dengan selimutnya tepat setelah sholat isya, terancam sekali begadang ku.

Yaps, aku mendapati pagi gelagapan kebakaran, setelah Halaqoh Muroja'ah 5 juz, aku baru sadar aku belum siap, dengan urutan setoran pertama.

Berakhir dengan pertanyaan bertubi tubi

"Ma biki ya Azfa?"

Hahaha, aku menertawakan diri sendiri
Aku hanya sempat menyetorkan 5 surat, tapi tetap dijanjikan untuk khatam minggu ini, 
caranya? mari kita serahkan saja.

Pulangnya Syekh dari apart kami,
Aku
Dengan lucunya menemukan Buku Matanku
Yang seperti tiba tiba muncul di rak hitam, tepat seperti apa yang kuingat, tempat terakhir ia mendarat. Sungguh, seperti ditutupi, di hindari dari aku agar berpaling dan melancarkan setoran.

: )
Manis sekali.
Allah benar benar mengatur segala hal dalam hidupmu, benar benar segala hal.




Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...