Selasa, 07 Desember 2021

Arendelle

 Sudah kuduga, Puas begitu kau cium aku?


Aku, Rumah, katamu.


Ketuklah sepuasnya, aku akan tetap disini berjuang menutup rapat rapat pintu ini, ku buka nanti ketika serius ayahku yang ingin ditemui, lantas akad membersamai.


Silahkan, jika itu tidak perlahan membunuhmu, aku akan menikmati setiap irama ketukan itu, juga ucapan dan kecupan manis yang kian berbekas.


Atau jika lelah, aku izinkan untuk saling bersandar di pintu itu, seperti Anna yang menunggu Elsa untuk keluar, tapi begitulah kita, menganggapmu layaknya adik tersayang.


Nanti, di perjalanan, jangan lupa singgah di toko untuk membeli baju penghangat, bertemu Kristoff yang setia bahkan pada seekor Rusa, aku akan disini, menikmati dunia es ku yang dingin, istana yang kubuat dengan cinta saat usai berdamai denganmu dan Arendelle, aku menikmati dunia dan seribu mimpiku membahagiakan manusia manusia lain. Aku belum begitu haus dengan bangunan cinta yang kau bangun dengan Kristoff.


Disini aku, untuk tetap menutup pintu. Sebab nanti, jika kubuka, tidak hanya ingin aku digandeng atau digendong seperti katamu, tapi aku ingin memilih berjalan bersisian, lalu berlari girang, bersama layaknya anak kecil yang mendapat sepasang balon gas gratis. Agar luas aku menarik tangan itu ke tempat yang aku mau, bukan yang kamu mau.


Aku menikmati candamu, percayalah semua kesenduan aneh itu candu, tapi aku tak akan pernah lelah untuk membunuh ribuan rindu.

Karena aku percaya, ketukan itu hanya akan jadi gema, tak akan berupa nyata, kamu mengetuknya hanya untuk bercanda kan?


Percayalah, aku bukan rumahmu.


Tapi tak apa, jika ini tidak membunuhmu, singgah ke sebuah villa anggun di lereng pegunungan, setiap akhir pekan bertolak kesini, baring di pangkuku untuk membuang penat hiruk pikuk kota, singgah kan? aku berikan kamu kopi buatanku, bukan hati berhargaku.


Seindah apapun aku dimatamu, aku bukan rumah. Aku hanya pelampiasan penat yang memang kamu butuhkan, tapi akan ada dia disana. Yang dengan rela menemani senang atau sedihmu.


Aku bisa jadi tempatmu berbulan madu, atau tidak, kamu akan memilih destinasi indah lain yang lebih mahal harganya dari villa tua yang setia ini. 


Atau bila aku sepenting itu, aku bisa jadi gelas yang dicumbu sepasang kekasih di tempat yang sama. Begitu bukti sayangku, melihat kebahagiaan hadir di bibir bibir itu.


Ah, aku gelasmu, sebab itu ada bekas bibirmu disini.

Tidak akan pernah jadi rumahmu, aku hanya villa tua tempat melempar rindu.

Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...