Sehari kemarin lebih parah, dari terbangun di tengah malam hingga malam lagi aku dibuat pusing dengan tangis yang tak terhenti, tangis karena pusing, pusing karena tangis, ya tawa jadi tabu menyapa.
Pagi ini aku putuskan untuk beristirahat, jasad dan fikiran, istirahat dari segala hiruk rumah ini, pikuk dunia ini.
Ah ternyata kandas, sakitku bencana pagi mereka, bangun jam lima adalah rekor muri terpecahkan, duar seperti fikiranku pagi ini.
Saat ujian kemarin pikiran ku sedang sangat sangat beku, Pulang ujian aku sedikit kesal pada salah satu musyrif kami, sudah tau jalanku sedang tak sempurna, kami di buat berjalan sampai ujung kulon, mencari tengah jalan raya agar dapat bus sepertiga berwarna biru, yap benar, sesampainya di halte aku terduduk menangis kelelahan. Huh lemah sekali.
Setelah ini aku ingin tidur melepas segala penat, beristirahat, dari hari hari yang sebenernya kalau kuat tak akan jadi berat. Hem, mungkin tidur menabung semangat lebih tepat.
Ah aku dibuat kecewa lagi, sesampai di apart aku lupa kita sudah pindah ke lantai dua otomatis anak tangga dua kali lipat menyapa.
Pintu terbuka lebar, aku menghadap ke kanan menyimpan sepatu, terlihat buru buru, aku sambil melihat selimut berkata kepadaku "cepaaaat, peluk akuu"
"Haadhir" pikirku, hahaha
Tak sempat cuci kaki, aku tertidur dengan kaos kaki masih terpasang, yap selelah itu
Sudah terlalu banyak tidur, mimpi sudah lewat depan mataku dengan alur cerita beragam, tapi tetap saja, mataku masih ingin melihat nya lagi dan lagi.
Aku terbangun kaget dengan satu kalimat.
"Ih Azfa suka sembarangan naro sepatu"
Menggema di telinga, suara melengking yang buat mimpi ku dari tadi tak jadi jadi melewati mata, ah ini salah selimut kemarin, nafsu sekali memintaku memeluknya
Entahlah, bila fisik ku sedang sehat, hati yang sakit di sembuhkan oleh senyum.
Saat fisik sedang sakit, mungkin ia tak akan membiarkan hati juga sakit, karena senyum akan lama hadirnya, terlalu bosan menunggu ia tercipta.
Sebenernya kata kata ini tak asing ku dengar, tapi asing ku ucap
Ya biasanya yang menggemakan kata kata ini orang orang di sekitarku, tugasku terhadapnya adalah meredakan, sekali pun tak pernah terfikir untuk membantu memanas, diam atau menyiram air adalah jalan ninjaku.
Berbeda dengan pagi tadi, aku mengeluarkan panasnya, tenang tenang, tidak berkoar koar. Jidatku sedang panas, aku tak ingin membakar orang orang di luar, haha tak sanggup.
Itu yang terjadi kemarin, haha mengherankan, Jidat yang panas bisa buat hati juga panas.
Tenang, jidatku sudah mendingin, jadi hati ku juga sudah dingin, ia jarang panas kok, jadi cepat redanya.
05.23, kamar koper tanpa jaringan.
Menunggu adzan subuh, biar cepet sholat lanjut tidur, kepalaku masih nanar, sepertinya dua hari lagi aku memilih bekam.