"Umi.. sedih.."
"Semangatin aku.."
Kalimat kalimat itu terus mengalir dari bibirku, ku katakan pada perempuan separuh baya yang di bawah telapak kakinya lah Syurgaku.
Kepasrahan itu ku lontarkan ketika menatap layar handphone ku, sembari menangis. Ketika aku mengingat betapa sakitnya sebuah penolakan.
Beberapa hari ini, aku terhenti pada suatu masa, Istirahat dari kacaunya keadaan. Hal ini berawal dari sebuah argumenku yang kutuangkan pada Tulisan, tapi, tak seperti biasanya, kali ini berbeda.
Oh, bukan, ini sebuah peristirahatan, Istirahat bukan Berhenti, bukan Mengakhiri. Aku janji, aku, akan kembali.
Aku Azfa, Perempuan berusia 15 tahun yang sedang mengalamai kegalauan. Aku suka menulis, menulis apa saja yang aku rasa butuh untuk ditulis, ya banyak hal.
Aku seorang Muslimah yang diamanahi untuk menjaga kalam penciptaku, benar sekali, Al - Qur'an. Sebuah tulisan yang didalamnya tidak ada keraguan.
Beberapa waktu terakhir aku sadar, bahwa tulisanku ternyata memiliki energi lebih dan dengan itu aku memutuskan untuk menapaki jalan dakwah ini, juga dengan Tulisan.
Aku tipe orang yang menulis atas landasan keresahan hati, menulis apa yang hati ini ungkapkan pada jari, Menulis apa yang hati ini sedang Alami. Karena katanya, kalau kita menulis dari hati, maka, insyaAllah hati yang membacanya pun merasakan getarannya.
Apakah Kalian bertanya tanya?
Jadi kegalauan apa yang membuatmu menangis? Fa?
Aku menulis tentang betapa gundahnya aku pada negeri ini, keresahan pada generasi ini, ketidaknyamanan atas ummat ini.
Tentang peran orang tua dan tanggung jawab mereka dalam menjaga anak perempuannya.
Ya, itulah hati,
Bukan selalu tentang yang melembutkan, menyejukkan, tapi didalam sana,
Pasti ada Keresahan.
Entahlah, sepertinya memang ada yang salah, atau, hati inilah yang belum belajar untuk menerima pekerjaan jari yang di tolak.
Salah nya ada pada satu kata, yang mungkin, ketika sampai pada hati si pembaca, bukan hanya menampar, Tulisanku ternyata menggores beberapa bagian hati mereka, sehingga mereka menyerukan ketidak setujuan atas tulisanku.
Yah, cukup berani memang kata kata itu.
Dan aku baru sadar, ternyata itu Menyakiti.
Biasanya, karena aku menulis dengan gayaku, yang suka memakai rangkaian kalimat menampar, mereka menunjukkan kenyamanan, dan berterima kasih sudah menyadarkan.
Itulah kenapa, aku rasa, sepertinya akan baik baik saja. Karena memang yang aku inginkan adalah bagaimana goresan tinta dakwah ini bisa menyentuh hati mereka.
Tapi ternyata, aku menekan penanya terlalu kuat, menyakiti bukan sekedar menyadari.
Mereka akhirnya pun menuliskan ungkapan hati mereka, yang telah aku lukai. Dan, yah, ketika sampai pada hati ini, cukup menyakitkan, penaku baru kali ini tintanya tumpah dan menodai hati orang lain, terlalu banyak.
Aku ingin menyudahi kepayahan ini, peristirahatan ini, Kertasku mulai haus dengan tinta.
Maka, kukatakan
"Selamat berbahagia dunia! Aku kembali!"
Dari sini
Aku berjanji
Pada diri ini
Aku akan terus belajar memperbaiki
Merawat dan memperhatikan
Beberapa goresan tinta
Yang terkedang keluar garis batas
Agar kedepannya
Aku tidak menyesal lagi.
"SELAMAT MENULIS, SEMUA!"