"Ih gak nikmat banget sholatnya"
Celetukku usai salam witir tadi malam.
Baru aku faham, bahwa nikmatnya berdiri lama lama sampai kaki bengkak, di malam malam sendu seperti yang diriwayatkan Fatimah tentang Rasulullah bila sholat malam, Memang ternyata bukan sembarang orang yang bisa merasakan "Nikmat" yang beliau rasakan.
Aku menjadi imam tarawih 1 juz di malam pertama Ramadhan ini, kebetulan sisa juz yang tidak di pilih oleh teman temanku adalah juz 21, yang yaaah dari dulu memang.. sangat.. perlu di bersamai.
Masjid nabawi adalah sebutan kami pada kamar yang kami tempati untuk sholat tarawih, adapun jamaah lain, di ruang tengah, kami menyebutnya Masjidil Haram, hahaha, bikin merinding cuy kalau udah ada yang nanya gini;
"Ntar malam masjidil haram siapa yang imam?", atau
"Siapa yang bersihin masjid nabawi abis tarawih?"
Wadaw, jadi marbot dong 😆ah gapapa di masjid nabawi inii, wkwk.
Aku mengimami dengan bacaan Syu'bah di juz 21, dannn baru teringat kalau aku imam sekitaar 5 jam sebelum adzan isya, haha bisa di bilang ga ada persiapaan, asal corat coret Qur'an dengan stabilo biru pada wajah wajah yang ada riwayat Syu'bah nya, lalu tancap gas sholat tarawih 1 juz, dibagi 1 lembar setiap roka'at nya.
Paginya, aku baru saja memulai setoran dengan 3 Qiro'at lain, Ibnu 'Amir, Kisai dan Kholaf, daan semakin menjadi jadilah tuntutan untuk setoran muluuus seperti air mengalir tanpa jeda, tajwid yang benar, bacaan yang tartil.
Dulu, selama menghafal, aku langganan imam tahajjud spesial dari 3 juz sampai 5 juz, karena bacaanku dikenal cepaat sekali seperti kilat, bahkan ada yang bilang
"Aku ga pernah ikut sholat tahajjud spesial kalau bukan Azfa yang imam"
Alamak 😩🤭
-yaps, sholat tahajjud 5 juz bisa selesai kurang lebih 2 jam-
Tapi, 3 bulan terakhir, selama memulai membenarkan bacaan dan mengambil sanad qiroat, aku mulai merasakan betapa tidak nyamannya membaca Qur'an secepat itu, mulai ngerasain nikmat nya baca pake tahqiq Mad Muttasil 4 Harokat, Mad Lazim fuuul 6 harokat
Nikmaaaat banget. Serius ✌🏻.
Nah, semalem itu tabrakan, teman temanku belum semua selesai tasbit hafalan quran dan belum mengambil sanad qiroat, jadi, ya
Definisi Nikmat kita berbeda.
Mereka menuntutku untuk mempercepat bacaan lagi, agar bisa langsung sikat gigi, lalu pergi ke alam mimpi.
Satu dari jamaahku yang juga sudah merasakan definisi nikmat yang sama denganku menyeletuk
"Ayolah, baru malam pertama, di pasang sabar nya kuat kuat."
Semalam itu, aku hampir menangis
Bagaimana tidak?
Di saat aku terpaksa mempercepat bacaanku yang sangat tidak nyaman, di detik yang sama aku mendengar bacaan imam dari guruku. Dan, Nyamaaan sekali :'(
Bayangkan? Menikmati setiap kata kalam ilahi, di malam pertama bulan suci, yang penuh diberkahi, bayangkan itu hey kawan! bayangkan betapa nikmatnya ituu!
Ah, sudahlah.
Di belakang apart kami, adalah masjid yang diimami oleh guru yang kepada beliau lah aku melewati nikmatnya proses panjang membenarkan bacaan sesuai dengan yang Allah turunkan, seperti yang Rasululllah bacakan.
Makanya, kalau sholat
Jangan berdiri pakai kaki, berdiri pakai iman.
Sekian.
#diksiharian003
Spring in Cairo, Ramadhan Day 1