Senin, 19 April 2021

Tentangku #1



 

Di keheningan radar

Tangisannya terdengar

Isakannya menggelegar


Aku, habis tertampar


Gadis sok dewasa ini sedang–

Diminta pertanggung jawabannya tentang–

Sudah sejauh mana ia berjuang

Sudah sekuat apa ia menyerang

Seluruh musuh yang menghadang


Ia merintih, bersedih

Detik detik tersirat ia ditagih

Mana benarnya jalan yang ia pilih

Kemana perginya terima kasih?

Dimana syukur yang rapih?

Dimana sabar yang selama ini ia latih?


Nak, Lekas!

Kita harus bergegas!

Satu dan dua, hargai nafas!

Tangkap tangisan lepas!

Bukankah sudah puas?

Lekas, waktu kita terbatas!


Kita manusia kuat

Tuhan mengirimkan kita ribuan tekad

Dia sedang mendekap kita, hangat


Demi ummat..

Hei gadis kecil, kumohon semangat!

Rabu, 14 April 2021

Kita Tidak Sempurna

 



Aku mulai terseok seok
Di jalan tempatku berbelok
Jatuh air mataku disana, kapok
Ah, ini sebab aku menengok

Ribuan kali aku diserang
Ribuan kali jua aku menentang
Di sekitarku orang orang—
Berbahagia, bersenang senang

Ini tentang ketidak mampuan manusia
Yang berharap pada dirinya
agar bisa jadi yang paripurna.

Ini tentang kejahatan seorang insan
Pada dirinya ia gantungkan ribu harapan
Sebab harap kepada selain tuhan–
Berujung kekecewaan

Binasa ia.
Dihancurkan kegagalan
Dimakan angan angan

Hei!
Kita bukan pencipta!
Suka atau duka, harus kita terima
Perihal akhir, bukan kehendak kita
Berserah dirilah pada yang Kuasa

Banyak hal misteri
Yang manusia, suka sok ngerti
Contohnya
Berkespaktasi sempurna
pada diri sendiri
Padahal ia paham sekali
Lemah adalah sifat manusia sejati

Jatuhlah ia, di kerumunan manusia–
Yang penuh tawa
Yang tak ada kecewa
Sebab mereka menerima
Kurang lebih dirinya

Hei, terimalah
Berserah dirilah
Setelah lelah, pasrah!
Bukan menyerah!

Kita insan.
Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

#diksiharian004

Ramadhan Day 2



Definisi Nikmat Kita Berbeda


 "Ih gak nikmat banget sholatnya"


Celetukku usai salam witir tadi malam.

Baru aku faham, bahwa nikmatnya berdiri lama lama sampai kaki bengkak, di malam malam sendu seperti yang diriwayatkan Fatimah tentang Rasulullah bila sholat malam, Memang ternyata bukan sembarang orang yang bisa merasakan "Nikmat" yang beliau rasakan.

Aku menjadi imam tarawih 1 juz di malam pertama Ramadhan ini, kebetulan sisa juz yang tidak di pilih oleh teman temanku adalah juz 21, yang yaaah dari dulu memang.. sangat.. perlu di bersamai.

Masjid nabawi adalah sebutan kami pada kamar yang kami tempati untuk sholat tarawih, adapun jamaah lain, di ruang tengah, kami menyebutnya Masjidil Haram, hahaha, bikin merinding cuy kalau udah ada yang nanya gini;

"Ntar malam masjidil haram siapa yang imam?", atau
"Siapa yang bersihin masjid nabawi abis tarawih?"
Wadaw, jadi marbot dong 😆ah gapapa di masjid nabawi inii, wkwk.

Aku mengimami dengan bacaan Syu'bah di juz 21, dannn baru teringat kalau aku imam sekitaar 5 jam sebelum adzan isya, haha bisa di bilang ga ada persiapaan, asal corat coret Qur'an dengan stabilo biru pada wajah wajah yang ada riwayat Syu'bah nya, lalu tancap gas sholat tarawih 1 juz, dibagi 1 lembar setiap roka'at nya.

Paginya, aku baru saja memulai setoran dengan 3 Qiro'at lain, Ibnu 'Amir, Kisai dan Kholaf, daan semakin menjadi jadilah tuntutan untuk setoran muluuus seperti air mengalir tanpa jeda, tajwid yang benar, bacaan yang tartil.

Dulu, selama menghafal, aku langganan imam tahajjud spesial dari 3 juz sampai 5 juz, karena bacaanku dikenal cepaat sekali seperti kilat, bahkan ada yang bilang

"Aku ga pernah ikut sholat tahajjud spesial kalau bukan Azfa yang imam"

Alamak 😩🤭
-yaps, sholat tahajjud 5 juz bisa selesai  kurang lebih 2 jam-

Tapi, 3 bulan terakhir, selama memulai membenarkan bacaan dan mengambil sanad qiroat, aku mulai merasakan betapa tidak nyamannya membaca Qur'an secepat itu, mulai ngerasain nikmat nya baca pake tahqiq Mad Muttasil 4 Harokat, Mad Lazim fuuul 6 harokat

Nikmaaaat banget. Serius ✌🏻.

Nah, semalem itu tabrakan, teman temanku belum semua selesai tasbit hafalan quran dan belum mengambil sanad qiroat, jadi, ya

Definisi Nikmat kita berbeda.

Mereka menuntutku untuk mempercepat bacaan lagi, agar bisa langsung sikat gigi, lalu pergi ke alam mimpi.

Satu dari jamaahku yang juga sudah merasakan definisi nikmat yang sama denganku menyeletuk

"Ayolah, baru malam pertama, di pasang sabar nya kuat kuat."

Semalam itu, aku hampir menangis
Bagaimana tidak?
Di saat aku terpaksa mempercepat bacaanku yang sangat tidak nyaman, di detik yang sama aku mendengar bacaan imam dari guruku. Dan, Nyamaaan sekali :'(

Bayangkan? Menikmati setiap kata kalam ilahi, di malam pertama bulan suci, yang penuh diberkahi, bayangkan itu hey kawan! bayangkan betapa nikmatnya ituu!

Ah, sudahlah.

Di belakang apart kami, adalah masjid yang diimami oleh guru yang kepada beliau lah aku melewati nikmatnya proses panjang membenarkan bacaan sesuai dengan yang Allah turunkan, seperti yang Rasululllah bacakan.

Makanya, kalau sholat
Jangan berdiri pakai kaki, berdiri pakai iman.

Sekian.

#diksiharian003

Spring in Cairo, Ramadhan Day 1

Minggu, 11 April 2021

Kebesaran

 


Hari ini, aku belajar tentang sebuah hal


Bahwa,

Berjalan dengan Sepatu Besar
Tidak membuatmu bisa Mengejar.

Setelan bajuku biru biru, sepatuku skeachers Hitam, lengkap dengan kacamata Roybon, kw RoyBean yang ku beli ketika Rihlah Hurghada. Sedang Kak Ira, seperti daun, gamis hijau muda dipasangkan dengan jilbab hijau tua, kacamata hitam swatch, dan sepatu skeachers biru dongker. Kami bertukar sepatu di bawah kubri, sebelum naik bis besar menuju tempat yang kami tuju. "Biar lebih mecing"

Ukuran sepatuku 38, sedang Kak Ira 41, haha jauh memang, tapi Kak Ira masih bisa memakai sepatuku, sedang aku, merasa nyaman saja dengan sepatu yang "Kebesaran". 

Singkat cerita, kami menyusuri trotoar sepanjang jalan raya menuju Masjid Azhar, untuk membeli kitab titipan guru kami di belakangnya, dan anehnya, Azfa yang sangat lincah ini, kehilangan langkah, tertinggal jauh di belakang.

Selain karena kelelahan pagi kemarin squad hingga otot paha tegang, malamnya di tusuk oleh angin kencang, karena kami pulang dari Hadiqoh Dauliyah sekitar jam 11 malam. Naik dan berputar di ayunan setinggi rumah, biang lala, habis dimakan angin malam. 

Aku membiarkan mereka meninggalkanku, Kak Ira dan Ilma, biarlah, biar aku menikmati hal berlebihan yang aku pakai siang ini, hahaha.

Aku teringat cuplikan badut di pinggir jalan, entah aku lihat dimana, dengan rambut warna warni, hidung tomat, dan ya, seperti yang aku pakai sekarang "Sepatu Kebesaran" membuat ia sulit berjalan. 

Hey, benar bukan? Hahaha

Ditambah dengan tugasnya menghibur orang lain, maka ia akan lebih berjalan lambat lagi, menahan diri, agar semua orang bisa tertawa menikmati.

Begitu tugas badut.

Sedang kamu, wahai penuntut ilmu.
Atau siapapun dengan mimpi beribu ribu.
Siapapun kamu dan puncak yang kamu tuju.

Tugasmu hanyalah;

Satu,
Di perjalanan menuju tujuan
Jangan pakai hal yang berlebihan
Itu mempersulit langkah, 
Memperlambat datangnya mudah!

Dua,
Tugas kamu adalah fokus dengan apa yang kamu tuju
Bukan berhenti, dan menghibur orang di sekitarmu
Kamu, tak perlu terlihat indah
Tak perlu tercipta menang atau kalah

Sekian.

#DiksiHarian002

Spring In Cairo, 20.54


Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...