Seperti lautan yang sudah meninggi ombaknya,
Tak sabar menghantam seluruh rakyat pesisir pantai penuh onar,
menghancurkan, menghanyutkan jiwa jiwa.
hei, sabar.
air mata mu masih sanggup kok, buat bertahan jadi bendungan
jangan men-tsunamikan manusia,
kamu tak perlu jahat kepada siapapun, apalagi dirimu sendiri.
pertama kali menerima fakta, bahwa penerbangan ini saya sungguhan tidak membawa telepon genggam yang dapat diandalkan untuk berkabar.
aku masih punya kedua tangan untuk menengadah pada Tuhanku.
tiket penerbangan Cairo - Doha, juga Doha - Jakarta sudah dicetak, -yang harusnya cukup dengan e - ticket-, bersyukur sekali aduhai bagaimana kalau aku tak bertemu dengan manusia manusia penguat hati.
Azwa, Kak Athieva, Kak Aidah, Mba Anggi. Adiknya.
menenangkan di detik detik aku kehilangan tenang.
jadwal take off jam 19.45, sedang jam 16.00 koper koper masih terbuka, luka di hati makin ternganga, mulut mulut jahat manusia tak ada habisnya, tangan mereka bisu, lidah mereka menusuk tak tahu malu.
aku tak tahu bagaimana, menghentikan rasa "ingin terus menangis" di dalam dada.
selain mengingat langit, yang akan kubersamai berjam jam nanti, lebih dekat dengan pemilik bumi, pemilik hati.
sampai di Bandara, aku menelfon umi, berkabar seadanya, menahan tangis pastinya.
masuk ke dalam pintu terbuka otomatis yang dijaga petugas, dengan sekian ragu, menggenggam barang kotak menyala milik Azwa yang tertimbun bulan bulan lamanya, menyimpan dua foto screenshoot check -in di galeri saja sudah tak mampu, apalagi menyembuhkan lukaku.
aduhai, mau sampai kapan kau sebut dia obat?
mendorong trolly bermuatan dua koper dan satu tas penuh buku, berat sungguhnya, ditambah dengan beribu kerisauan hati yang melemahkan jasad. melambaikan tangan pada mereka yang juga ikut risau, sebab 30 menit lagi, harusnya pesawat yang akan kunaiki sudah tidak di tanah, dan aku bahkan baru menginjak gedung bandaranya.
katanya, aku harus ke kanan. di mobil perjalanan tadi, aku berusaha sekuat mungkin untuk memasukkan ke kepala seluruh himbauan kak ira untukku di bandara nanti, yang kuingat hanya ke kanan dan ke kanan.
ternyata aku harus melewati x - ray dulu sebelum menuju loket Qatar Airways yang katanya di kanan. nyatanya, 5 menitku habis untuk pergi ke kanan sebelum masuk di x - ray, sampai kanan nya habis dan aku tidak menemukan keramaian, bahkan loketnya, tidak sama sekali.
setelah x - ray pertama, aku di bantu oleh seorang petugas Mesir yang daritadi melihatku celingak celinguk keraguan, sebelum memindahkan barang barang yang sudah di x ray kembali ke atas trolly, ternyata dari sekian barang milik orang orang, hanya barang yang kubawa yang membuat mata petugas x - ray curiga, akhirnya koper putih kecil, koper putih besar yang sudah terbalut cover bag dengan rapih, dan susah sekali di tutup karena kepenuhan, akhirnya mereka buka, untung sekali waktu menyusun tadi sudah aku siasati agar tidak menaruh barang barang "aneh" milikku di bagian atas, meskipun terperiksa sedikit dan kelihatan, aku memasang muka tebal, menahan malu yang beribu.
yang paling menegangkan, saat tas yang penuh dengan buku titipan markaz, takut sekali ada yang terlarang, meskipun sudah ditenangkan sebelum berangkat tadi, wajah mereka saat menilik satu satu buku yang ada, judulnya, halamannya, dibolak - balik, merapalkan sekian tawakkal, banjir pada bibir. mereka menyudahi pemeriksaan itu karena antrian x - ray yang penuh.
petugas mesir yang tadi membantuku, masih disisi, membantu menutup koper yang kepenuhan, membaju-i-nya lagi meski terbalik, mengangkatnya ke atas trolly, mendorongnya, lalu mengajak berbicara aku yang masih- terlihat -tidak tenang.
bertanya sekedarnya, seharusnya dalam seni berkomunikasi aku masih bisa menjawab lebih, tapi risau menyelimutiku, entah kenapa, aku kalah pada ragu.
aku meminta di tunjukkan tempat wrapping, mengingat tas buku yang sangat ringkih karena aku dan azwa meng-selotip-inya dengan sedikit rasa prihatin tadi siang, tidak kuat, karena dengan tidak penuh semangat. belum lagi mengingat 2 koper putih murah yang aku beli bersama abi, impor-an dari batam. seharga satu juta dapat 3. "enak dong, dapat tiga." haha, enak sih, deg degan iya.
aku hanya punya dua lembar 100 pound terakhir, belum lagi tadi saat mobil yang kami naiki ditilang karena berkaca hitam, ah iya, itu juga yang membuat aku telat. dan itu, belum terbayar.
satu lembarnya untuk wrapping, setelah diangkat kembali ke trolly, petugas tadi masih mengajakku bercanda, sedikit tidak kutanggapi ,dan akhirnya di akhiri dengan "kamu kenapa toh? aku ajak bicara diem aja, cerita yang banyak gitu kan enak nah, hehe." aku hanya tersenyum, ia mengira aku tak terlalu pandai berbahasa arab, aku ingin bilang, "bukan paman, bukan tak pandai berbicara, aku hanya tak pandai menutupi payahku kali ini, kali ini saja."
ia mengantarku sampai di antrian loket Qatar yang masih lumayan panjang, untungnya ada beberapa orang indonesia yang setidaknya menjadi incaran, saat himbauan teman teman dan ummi sebelum ini, untuk "CARI ORANG INDONESIA, MINTA DIBARENGI SAMPAI DI JAKARTA."
kandas, nyatanya tak begitu, mereka juga dengan risau risau mereka sendiri, beberapa kali berpapasan mata, tapi sorot matanya tak meyakinkan, membuat aku menampar yakin lagi kepada diri sendiri, memasrahkan seluruhnya lagi, pada Ilahi.
petugas mesir tadi, meminta upah, dan di dompetku hanya tersisa satu lembar, 100 pound, tak ada lagi selain itu. dan- tidak mungkin aku minta kembalian.
setidaknya ini jadi tawashul untuk meminta kemudahan, iya kan?
teringat, pertanyaan mba Anggi tadi; "bawa uang pound banyak kan fa?", "emm 2 ratus doang mba, buat wrap,." "haduh, takut ghoromah," -denda karena pulang tanpa iqomah(izin tinggal, yang nilai dendanya 1000 pound setiap bulannya. sedang izin tinggal terakhir saat pertama kali masuk ke Mesir, setahun yang lalu.) tawakkal lageh.
aku menunggu dengan ribuan dzikir, mencari cincin hitam penghitung, menjadi pengingatku untuk terus mengingat-Nya, merapihkan setelan terbaikku selama di Mesir ini, sepatu putih baru dicuci, gamis merah muda, pashmina pink pastel, juga blazzer warna khaky punya LC waikiki, baru dipinang belum 48 jam yang lalu. menaruh rapih Qur'an saku di kantong dada. aduhai, sayang sekali tak ada kamera yang mampu dan mau untuk mengabadikan momen -terkece- ini, harusnya. memasang muka setebal mungkin agar kelihatan bahagia, agar ikut bahagia juga pastinya.
kata mereka : "yuk disenengin hatinya, ya."
-padahal rela tak semudah kataa.
tak perlu khawatir ku hanya terluka,
terbiasa tuk pura pura tertawa~
runtuh - fiersa, feby.
aku melihat orang Indonesia yang tadi kuincar untuk berkenalan sedikit kualahan saat di depan loket, sesuai duga, tidak begitu meyakinkan untuk disandari, dan di benalu-i.
aku sedikit tercengang dan melamun, saat di antrian, membuat ibu ibu di belakang meneriakiku yang tengah memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi, berteriak, membuat buyar dan segera melaju ke petugas pemeriksa, meninggalkan seluruh lamunan yang lebih bisa disebut suudzon. mengusirnya, menggantinya lagi dengan banjiran doa.
melihat jam, 15 menit lagi waktu boarding, belum selesai check - in, belum taruh bagasi, belum naik ke lantai dua, belum ke imigrasi. jeng jeng.
sesampinya di loket Qatar....
...bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar