Senin, 19 Juli 2021

Bunda

Bunda..

Gadis kecilmu sedang terluka...

Binasa ia

Dihancurkan oleh tangan mungilnya

 

Bunda..

Kapan ia bisa pulang?

Berhenti berjuang, mengemis kasih sayang

 

Bunda..

Jemarinya tak berbentuk

Ia seakan terkutuk

Lututnya terus tertekuk

Diujung sana ia duduk, terpuruk

 

Bunda..

Sejauh ini berlarinya begitu cepat

Satu dua, ia tersesat

Bertubi tubi jatuh dan terjerat

Tapi luka membuatnya semakin kuat

 

Duri tertusuk dalam

Dunia semakin kejam

Hari harinya hanya menunggu malam

Menanti kelam, muram, tenggelam

 

Gadis kecil, bertahanlah

Betapa menantinya sebuah indah

Lihatlah,

Akan ada hari senyummu tak kan musnah

Bahagia tak berkesudah


Senin, 31 Mei 2021

31 Mei

Selamat.

Untuk seluruh apapun yang berbahagia hari ini.

detik ini, disaat yang sama.
ketika kamu berbahagia atas segala yang kau pijak
aku pun berbahagia dengan sebuah pilihan bijak

Ikhlas.
Membunuh seluruh rasa, lepas

Janji,
untuk pergi, melupa semua sepi
yang kau, pernah singgah mengisi

Selamat untuk menjalani sisa
selamat untuk mengabdi pada agama
selamat berkurang, selamat berjuang

jua,
selamat tinggal, semua

16.03 CLT, 31 Mei 2021

Senin, 19 April 2021

Tentangku #1



 

Di keheningan radar

Tangisannya terdengar

Isakannya menggelegar


Aku, habis tertampar


Gadis sok dewasa ini sedang–

Diminta pertanggung jawabannya tentang–

Sudah sejauh mana ia berjuang

Sudah sekuat apa ia menyerang

Seluruh musuh yang menghadang


Ia merintih, bersedih

Detik detik tersirat ia ditagih

Mana benarnya jalan yang ia pilih

Kemana perginya terima kasih?

Dimana syukur yang rapih?

Dimana sabar yang selama ini ia latih?


Nak, Lekas!

Kita harus bergegas!

Satu dan dua, hargai nafas!

Tangkap tangisan lepas!

Bukankah sudah puas?

Lekas, waktu kita terbatas!


Kita manusia kuat

Tuhan mengirimkan kita ribuan tekad

Dia sedang mendekap kita, hangat


Demi ummat..

Hei gadis kecil, kumohon semangat!

Rabu, 14 April 2021

Kita Tidak Sempurna

 



Aku mulai terseok seok
Di jalan tempatku berbelok
Jatuh air mataku disana, kapok
Ah, ini sebab aku menengok

Ribuan kali aku diserang
Ribuan kali jua aku menentang
Di sekitarku orang orang—
Berbahagia, bersenang senang

Ini tentang ketidak mampuan manusia
Yang berharap pada dirinya
agar bisa jadi yang paripurna.

Ini tentang kejahatan seorang insan
Pada dirinya ia gantungkan ribu harapan
Sebab harap kepada selain tuhan–
Berujung kekecewaan

Binasa ia.
Dihancurkan kegagalan
Dimakan angan angan

Hei!
Kita bukan pencipta!
Suka atau duka, harus kita terima
Perihal akhir, bukan kehendak kita
Berserah dirilah pada yang Kuasa

Banyak hal misteri
Yang manusia, suka sok ngerti
Contohnya
Berkespaktasi sempurna
pada diri sendiri
Padahal ia paham sekali
Lemah adalah sifat manusia sejati

Jatuhlah ia, di kerumunan manusia–
Yang penuh tawa
Yang tak ada kecewa
Sebab mereka menerima
Kurang lebih dirinya

Hei, terimalah
Berserah dirilah
Setelah lelah, pasrah!
Bukan menyerah!

Kita insan.
Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

#diksiharian004

Ramadhan Day 2



Definisi Nikmat Kita Berbeda


 "Ih gak nikmat banget sholatnya"


Celetukku usai salam witir tadi malam.

Baru aku faham, bahwa nikmatnya berdiri lama lama sampai kaki bengkak, di malam malam sendu seperti yang diriwayatkan Fatimah tentang Rasulullah bila sholat malam, Memang ternyata bukan sembarang orang yang bisa merasakan "Nikmat" yang beliau rasakan.

Aku menjadi imam tarawih 1 juz di malam pertama Ramadhan ini, kebetulan sisa juz yang tidak di pilih oleh teman temanku adalah juz 21, yang yaaah dari dulu memang.. sangat.. perlu di bersamai.

Masjid nabawi adalah sebutan kami pada kamar yang kami tempati untuk sholat tarawih, adapun jamaah lain, di ruang tengah, kami menyebutnya Masjidil Haram, hahaha, bikin merinding cuy kalau udah ada yang nanya gini;

"Ntar malam masjidil haram siapa yang imam?", atau
"Siapa yang bersihin masjid nabawi abis tarawih?"
Wadaw, jadi marbot dong 😆ah gapapa di masjid nabawi inii, wkwk.

Aku mengimami dengan bacaan Syu'bah di juz 21, dannn baru teringat kalau aku imam sekitaar 5 jam sebelum adzan isya, haha bisa di bilang ga ada persiapaan, asal corat coret Qur'an dengan stabilo biru pada wajah wajah yang ada riwayat Syu'bah nya, lalu tancap gas sholat tarawih 1 juz, dibagi 1 lembar setiap roka'at nya.

Paginya, aku baru saja memulai setoran dengan 3 Qiro'at lain, Ibnu 'Amir, Kisai dan Kholaf, daan semakin menjadi jadilah tuntutan untuk setoran muluuus seperti air mengalir tanpa jeda, tajwid yang benar, bacaan yang tartil.

Dulu, selama menghafal, aku langganan imam tahajjud spesial dari 3 juz sampai 5 juz, karena bacaanku dikenal cepaat sekali seperti kilat, bahkan ada yang bilang

"Aku ga pernah ikut sholat tahajjud spesial kalau bukan Azfa yang imam"

Alamak 😩🤭
-yaps, sholat tahajjud 5 juz bisa selesai  kurang lebih 2 jam-

Tapi, 3 bulan terakhir, selama memulai membenarkan bacaan dan mengambil sanad qiroat, aku mulai merasakan betapa tidak nyamannya membaca Qur'an secepat itu, mulai ngerasain nikmat nya baca pake tahqiq Mad Muttasil 4 Harokat, Mad Lazim fuuul 6 harokat

Nikmaaaat banget. Serius ✌🏻.

Nah, semalem itu tabrakan, teman temanku belum semua selesai tasbit hafalan quran dan belum mengambil sanad qiroat, jadi, ya

Definisi Nikmat kita berbeda.

Mereka menuntutku untuk mempercepat bacaan lagi, agar bisa langsung sikat gigi, lalu pergi ke alam mimpi.

Satu dari jamaahku yang juga sudah merasakan definisi nikmat yang sama denganku menyeletuk

"Ayolah, baru malam pertama, di pasang sabar nya kuat kuat."

Semalam itu, aku hampir menangis
Bagaimana tidak?
Di saat aku terpaksa mempercepat bacaanku yang sangat tidak nyaman, di detik yang sama aku mendengar bacaan imam dari guruku. Dan, Nyamaaan sekali :'(

Bayangkan? Menikmati setiap kata kalam ilahi, di malam pertama bulan suci, yang penuh diberkahi, bayangkan itu hey kawan! bayangkan betapa nikmatnya ituu!

Ah, sudahlah.

Di belakang apart kami, adalah masjid yang diimami oleh guru yang kepada beliau lah aku melewati nikmatnya proses panjang membenarkan bacaan sesuai dengan yang Allah turunkan, seperti yang Rasululllah bacakan.

Makanya, kalau sholat
Jangan berdiri pakai kaki, berdiri pakai iman.

Sekian.

#diksiharian003

Spring in Cairo, Ramadhan Day 1

Minggu, 11 April 2021

Kebesaran

 


Hari ini, aku belajar tentang sebuah hal


Bahwa,

Berjalan dengan Sepatu Besar
Tidak membuatmu bisa Mengejar.

Setelan bajuku biru biru, sepatuku skeachers Hitam, lengkap dengan kacamata Roybon, kw RoyBean yang ku beli ketika Rihlah Hurghada. Sedang Kak Ira, seperti daun, gamis hijau muda dipasangkan dengan jilbab hijau tua, kacamata hitam swatch, dan sepatu skeachers biru dongker. Kami bertukar sepatu di bawah kubri, sebelum naik bis besar menuju tempat yang kami tuju. "Biar lebih mecing"

Ukuran sepatuku 38, sedang Kak Ira 41, haha jauh memang, tapi Kak Ira masih bisa memakai sepatuku, sedang aku, merasa nyaman saja dengan sepatu yang "Kebesaran". 

Singkat cerita, kami menyusuri trotoar sepanjang jalan raya menuju Masjid Azhar, untuk membeli kitab titipan guru kami di belakangnya, dan anehnya, Azfa yang sangat lincah ini, kehilangan langkah, tertinggal jauh di belakang.

Selain karena kelelahan pagi kemarin squad hingga otot paha tegang, malamnya di tusuk oleh angin kencang, karena kami pulang dari Hadiqoh Dauliyah sekitar jam 11 malam. Naik dan berputar di ayunan setinggi rumah, biang lala, habis dimakan angin malam. 

Aku membiarkan mereka meninggalkanku, Kak Ira dan Ilma, biarlah, biar aku menikmati hal berlebihan yang aku pakai siang ini, hahaha.

Aku teringat cuplikan badut di pinggir jalan, entah aku lihat dimana, dengan rambut warna warni, hidung tomat, dan ya, seperti yang aku pakai sekarang "Sepatu Kebesaran" membuat ia sulit berjalan. 

Hey, benar bukan? Hahaha

Ditambah dengan tugasnya menghibur orang lain, maka ia akan lebih berjalan lambat lagi, menahan diri, agar semua orang bisa tertawa menikmati.

Begitu tugas badut.

Sedang kamu, wahai penuntut ilmu.
Atau siapapun dengan mimpi beribu ribu.
Siapapun kamu dan puncak yang kamu tuju.

Tugasmu hanyalah;

Satu,
Di perjalanan menuju tujuan
Jangan pakai hal yang berlebihan
Itu mempersulit langkah, 
Memperlambat datangnya mudah!

Dua,
Tugas kamu adalah fokus dengan apa yang kamu tuju
Bukan berhenti, dan menghibur orang di sekitarmu
Kamu, tak perlu terlihat indah
Tak perlu tercipta menang atau kalah

Sekian.

#DiksiHarian002

Spring In Cairo, 20.54


Minggu, 28 Februari 2021

Segala Hal


Ah, sungguh Cinta Allah pada hamba-Nya
Sungguh, tak kan pernah tertandingi

Perenunganku tak usai usai, sebab tragedi sedih tak berkesudahan di awal bulan membuat akhir bulan ku kacau, ada pencapaian yang belum tergapai. Target yang tak selesai, dan satu, aku mendapati pikiran yang tak sesuai.

Hah, sudah sudah cukup peratapannya, mari bangun, bangkit dan berlari, sungguh disana, disana, Ridho Allah menanti.

Ya, kitab hijau ini, adalah kitab saku yang berisi matan matan tajwid, penunjang cintaku dengan Qur'an, aku janji akan menghabiskan kebersamaan di januari. Sedang ada masalah pada diri, pada hati. Kecewa dengan diri sendiri sempat menghampiri, tapi sekali lagi, kalau bukan aku yang mencintainya, siapa lagi?
 Aku mengubah untuk bisa menghabiskannya akhir Februari.

Qodarullah, detik ini, di awal Maret ini, masih ada ratusan bait menunggu untuk di bersamai, dan sekitarku, guruku mulai menagih.

Allah mengatur segala urusan hambanya sedetail mungkin.

Pekan pekan ini adalah pekan ujian bagi Mahasiswa Azhar, namun berbeda dengan aku dan teman teman sekelasku di Mutaqoddim Ma'had Bu'uts, jadwal ujian kami belum turun, karena memang katanya kami harus menunggu sampai turun jadwal ujian akselerasi, barulah aku akan kebakaran dengan seluruh materi yang belum pernah otakku kenali.

Maka, pertemuan dengan Syekh di hari ahad, akan kami ambil alih, sekitar enam sampai tujuh orang yang memang seluruhnya adalah santri tahsin dan qiroat, yang bisa menghabiskan sejam dua jam untuk sendiri,
 ah nikmat apa lagi yang kau dustakan hei?

Syekh menyuruhku menyiapkan lima sampai enam juz dengan bacaan Imam 'Ashim untuk di setorkan di hari itu, dimulai dari juz 21 dan lima juz setelahnya.

Mendengarnya :)
10 juz terakhir itu Doi, yang sungguh sampai kini, aku belum berdamai lagi.

Tak apa, ini kasih sayang Allah, agar aku bisa berlari mengejarnya, membersamainya tanpa henti, dann mengubahnya menjadi yang paling tertancapp dalam hati.

Sedang masih ada Matan Salsabil berwarna hijau yang juga menunggu, jadi ku mulai lari ku, sungguh, meski sudah sangat terlambat.

Aku memutuskan untuk menghabiskan siang hingga adzan maghrib berkumandang untuk mengejar matan, lalu menyiapkan setoran di malam harinya. Tapi aku candu, target nya belum tercapai hingga maghrib, buku kecil hijau ini masih di genggaman, sampai terhantui fikiran ku kekhawatiran tentang rawannya 10 juz akhir itu.

"Tapi aku udah ngelancarin ini dari berminggu minggu lalu" gumamku.

Hei fa, justru itu.

Sampai pada akhirnya aku terburu buru dengan adzan isya, menaruh buku ini sembarangan dan mengambil air wudhu.
Selepas sholat aku mencarinya, untuk melihat satu atau dua bab lagi, tapi kandas

Aku mencarinya dengan kacau, padahal aku yakin sekali rak hitam adalah pendaratan terakhir.

:D sepertinya disembunyikan Allah,
Agar aku tidak menggantungkan juz 21, Tuhanku paham benar keadaan otak ku, sungguh paham benar.

"Baiklahhh, akan kubersamai engkau wahai 10 juz terakhiiir"

Omong kosong, kasur tergelar lengkap dengan selimutnya tepat setelah sholat isya, terancam sekali begadang ku.

Yaps, aku mendapati pagi gelagapan kebakaran, setelah Halaqoh Muroja'ah 5 juz, aku baru sadar aku belum siap, dengan urutan setoran pertama.

Berakhir dengan pertanyaan bertubi tubi

"Ma biki ya Azfa?"

Hahaha, aku menertawakan diri sendiri
Aku hanya sempat menyetorkan 5 surat, tapi tetap dijanjikan untuk khatam minggu ini, 
caranya? mari kita serahkan saja.

Pulangnya Syekh dari apart kami,
Aku
Dengan lucunya menemukan Buku Matanku
Yang seperti tiba tiba muncul di rak hitam, tepat seperti apa yang kuingat, tempat terakhir ia mendarat. Sungguh, seperti ditutupi, di hindari dari aku agar berpaling dan melancarkan setoran.

: )
Manis sekali.
Allah benar benar mengatur segala hal dalam hidupmu, benar benar segala hal.




Sabtu, 27 Februari 2021

Strawberry mix Honey


 

Baru baru ini, aku menemukan sebuah diksi

Bahwa buah Stroberi dan Madu itu sebuah perpaduan tervalid no debat, layaknya Syukur dan Sabar

Aku mendapati buah Stroberi ku penuh segar, dari awal tatapan, aku langsung jatuh cinta, dengan sepenuh Syukur aku cuci dan kucampurkan dengan Madu

Sedang milik kawanku, ia memotong beberapa bagian dan membuangnya, katanya banyak yang rusak.

Entah bagaimana, padahal kami membeli di toko yang sama, di waktu yang sama, bahkan aku yang tak banyak mata ketika memilih.

Syukur, itu nama Stroberi ku.

Sedang Madu, ia adalah Sabar

Biasanya aku memilih gula untuk dipasangkan bersama buah kesukaaan ku ini. Tapi ternyata gula pasir tak sesehat rasanya, yaa nikmat tapi nyatanya menyakiti.

Maka karena itu aku mengganti gula dengan madu. Melihat gula, aku harus sabar meski dari segi rasa pasti gula lebih menang, tapi karena dibalik madu ada seribu sabar untuk sehatnya tubuhku di masa depan, Madu jauh lebih di depan.

Hehe, itu kisah singkatku tentang perpaduan tanpa debat ini.

Jangan lupa jaga kesehatan ya!





Minggu, 21 Februari 2021

Harusnya kamu tau

 Hey?

Maksudnya apa?

Berlari
Tertuntut untuk mengajak
Tapi, perihal membersamai
Mengapa sangat egois?
Mengapa untuk mengerti, ada banyak hati yang juga ingin di mengerti
Sulit sekali?

Bisa tolong di buka?
Mata hati yang ingin menang sendiri?
Yang begitu tak sadar
Banyak sekali yang tertinggal

Karena tak ada satupun yang ingin mengejar
Aku, kami semua disini
Hanya perlu di mengerti
Bahwa tak semua yang kau mau
Semudah itu dijalani

Betapa kamu tau?
Sudah berapa hati yang tersakiti
Berharap hanya Allah yang mengobati
Luka luka yang menganga
Yang bingung bagaimana menyuguhkan senyum ketika benar benar terluka

Harusnya kamu tau
Menerima dan menjalankan tak semudah itu
Dengan seluruh keadaan hati
Yang tak semua
Iya, selembut kamu

Harusnya kamu tau
Bahwa hati yang mengalah
Adalah yang menang

Harusnya kamu tau.
Eh engga.

Harusnya aku tau
Bahwa tak semua harus kamu tau

Senin, 15 Februari 2021

Juara & Jodoh

Sungguh semudah itu menjadi indah.

Juara dalam kompetisi itu ga jauh beda sama Jodoh, seluruh usaha udah kita kerahkan agar pantas untuk mendapatkannya. 

Usaha, sebenar benar usaha.

Menebak adalah kemampuan akhir kita, 
Benarkah aku? Yang sungguh akan mendapatkannya?

Keduanya adalah rezki, yang sudah lengkap konsepnya, jelas pengaturannya, sesuai porsinya.

Bila memang pada akhirnya, tebakan kita ada benarnya, ya sudah, itu yang Allah tuliskan untuk kita.

Juara, Untuk aku atau bukan, itu yang terbaik.

Dan,
Jodoh, Dia untukku? Atau untuk orang lain, itu yang terbaik.

Bila kenyataan akhirnya
Pahit dan sakit.

Tapi, cukup dengan menerima itu hadiah terbaik yang Allah pilih untuk kita.

Senyum, rasain manisnya.
Indah Bukan?


07.02, Pinggir Pantai
Port Sa'id.

Jumat, 05 Februari 2021

Lemah

 Tiap jiwa

Punya batas titik terlemahnya
Biasanya pada saat ini, seluruh manusia kembali pada yang menenangkannya
Apa yang dibutuhkannya

Dan aku disini
Bersama senggukan, tisu, dan air mata yang setia

Aku kira
Yang butuh dekapan itu bukan aku
Yang butuh senderan itu bukan aku
Tapi aku, sungguh memaksa
Dan aku, terlalu lelah dibuatnya

Senyum tak henti terukir
Itu yang selama ini ku sebut kebanggaanku
Di kala sungutnya manusia
Aku masih bisa mencoba untuk tertawa

Kuat,
Itu panggilku untuk senyumku
Tapi malam ini, tak begitu
Jasadku menolong hati yang begitu sering tersakiti
Yang selalu kuat karena sok kuat

Ya mau bagaimana lagi
Manusia memang lemah pada sejatinya :)

Senin, 01 Februari 2021

Sedih, kapan pergi?

 Pagi ini aku bangun dengan tantangan

Beribu rasa iri, pada secercah semangat yang kini sedang menjadi kenangan
Detik detik menunda janji, untuk merubah ia menjadi kenyataan lagi

Hari hari ini kurasa berat
Dengan lepas penuh kontrol hasrat
Membenci setiap hal terjadi
Menyesali segala hal terlewati

Panik dan panik
Terlalu jauh atau penuh
Kacau dan kacau
Terlalu sakit atau sempit

Setiap sedih ku turuti
Lahir luka luka lain mengikuti

Pagi ini aku coba untuk melawannya
Air mata sudah ingin menyapa
Tapi sekali lagi
Bertahan, akan selalu aku usahakan

Ah, harusnya kata kata itu harus terlintas setiap putus asa menghampiri
Setiap nafsu meminta untuk di izinkan singgah pada diri

Saat saat sulit
Jalanan depan rumahku sedang berpasir
Dengan seluruh ngilu di sekujur tubuh
Aku dengan mantap melangkah
Melalui dengan seribu harapan
Berharap semangat kembali bersarang
Pada diri lemah yang sedang kesusahan

Berani terpasang, pasrah bermain peran
Dengan seribu kekuatan, aku melawan sedih
Aku bawa tanggung jawab pagi itu dengan genggap penuh pasti

Meloncat loncat seperti anak kecil membawa permen
Aku dengan seribu rasa malu yang ku singkirkan sementara
Demi mengusir luka, demi mengundang tawa

Hey, kamu di tunggu
Di tunggu oleh seluruh mimpi tinggi
Yang tak bisa di buat nyata dengah sedih : )

Semangattt!!!!

Jumat, 22 Januari 2021

Tentang Kamu

Dengan segala cerita yang tak pernah berakhir,
ujung yang sejatinya tak berujung,
mengarang dan menganggap, lalu percaya

Aku dengan seluruh ingatanku tentangmu,
tentang pengganggu yang hadir bukan bermaksud mengganggu,
mungkin bisa jadi banyak pelajaran kuambil darimu,
begitu sebaliknya, semoga mampirku berkesan dan bermanfaat untuk hidupmu

Tentang singgahnya rasa aneh,
Rasa yang begitu dibanggakan anak adam
Tapi bagiku, ini sungguh asing
Sangat sangat asing

Setiap langkah pergi meninggalkan
Aku dikejar bayang kenangan kenangan semu
Tanpa henti, sungguh
Tanpa henti

Sekuat tenaga pikiranku mengelak
Mati matian hatiku menolak
Kandas, kamu terlalu manis
Atau mungkin terlalu sakit untuk dilupa

Ah sungguh
Aku lelah dengan seluruh rasa yang tiada ujung

Hari hariku kian menjadi ajang pura pura,
Pura pura tak mengingat apa apa,
Atau, sejatinya memang lupa
Hanya saja tiap kusadari
Aku menuntut untuk tetap disini
Menunggumu dengan untaian untaian doa pasti

Di sebut manusia setia
Padahal, jauh, aku melihat ia tertinggal jauh
Jauh dari segala ekspektasi kejaranku
Jauh dari segala impian impian manisku
Hari hariku, penuh dengan membuktikan pada dunia
Sedang kamu? Aku tak pernah melihat kejelasan
Sekarang, apa yang benar benar kamu lakukan

Hey, 
Rasa aneh yang menghantui!
Kau tau betapa cemburunya segala tujuan yang ingin kuraih
Dengan hadirnya kamu, 
Yang mengacaukan tangga tangga mimpi

Tetes air mata tak kuasa
Sungguh, menahan untuk menerima,
Bahwa hadirnya,
Singgah yang singkat
Tapi entahlah, ini sayang untuk apa

Bahkan mata kita belum sekali saling memandang 

Hey, aku lelah :')

Minggu, 13 Desember 2020

Panas

Seperti di bus, langkahku terseok terayun, tumpuan jadi tak seimbang, kepalaku begitu pusing, tujuh, mungkin sepuluh keliling.

Sehari kemarin lebih parah, dari terbangun di tengah malam hingga malam lagi aku dibuat pusing dengan tangis yang tak terhenti, tangis karena pusing, pusing karena tangis, ya tawa jadi tabu menyapa.

Pagi ini aku putuskan untuk beristirahat, jasad dan fikiran, istirahat dari segala hiruk rumah ini, pikuk dunia ini.

Ah ternyata kandas, sakitku bencana pagi mereka, bangun jam lima adalah rekor muri terpecahkan, duar seperti fikiranku pagi ini.

Saat ujian kemarin pikiran ku sedang sangat sangat beku, Pulang ujian  aku sedikit kesal pada salah satu musyrif kami, sudah tau jalanku sedang tak sempurna, kami di buat berjalan sampai ujung kulon, mencari tengah jalan raya agar dapat bus sepertiga berwarna biru, yap benar, sesampainya di halte aku terduduk menangis kelelahan. Huh lemah sekali.

Setelah ini aku ingin tidur melepas segala penat, beristirahat, dari hari hari yang sebenernya kalau kuat tak akan jadi berat. Hem, mungkin tidur menabung semangat lebih tepat.

Ah aku dibuat kecewa lagi, sesampai di apart aku lupa kita sudah pindah ke lantai dua otomatis anak tangga dua kali lipat menyapa.

Pintu terbuka lebar, aku menghadap ke kanan menyimpan sepatu, terlihat buru buru, aku sambil melihat selimut berkata kepadaku "cepaaaat, peluk akuu" 
"Haadhir" pikirku, hahaha
Tak sempat cuci kaki, aku tertidur dengan kaos kaki masih terpasang, yap selelah itu

Sudah terlalu banyak tidur, mimpi sudah lewat depan mataku dengan alur cerita beragam, tapi tetap saja, mataku masih ingin melihat nya lagi dan lagi.
Aku terbangun kaget dengan satu kalimat.

"Ih Azfa suka sembarangan naro sepatu"

Menggema di telinga, suara melengking yang buat mimpi ku dari tadi tak jadi jadi melewati mata, ah ini salah selimut kemarin, nafsu sekali memintaku memeluknya

Entahlah, bila fisik ku sedang sehat, hati yang sakit di sembuhkan oleh senyum.
Saat fisik sedang sakit, mungkin ia tak akan membiarkan hati juga sakit, karena senyum akan lama hadirnya, terlalu bosan menunggu ia tercipta.

Sebenernya kata kata ini tak asing ku dengar, tapi asing ku ucap
Ya biasanya yang menggemakan kata kata ini orang orang di sekitarku, tugasku terhadapnya adalah meredakan, sekali pun tak pernah terfikir untuk membantu memanas, diam atau menyiram air adalah jalan ninjaku.

Berbeda dengan pagi tadi, aku mengeluarkan panasnya, tenang tenang, tidak berkoar koar. Jidatku sedang panas, aku tak ingin membakar orang orang di luar, haha tak sanggup.

Itu yang terjadi kemarin, haha mengherankan, Jidat yang panas bisa buat hati juga panas.
Tenang, jidatku sudah mendingin, jadi hati ku juga sudah dingin, ia jarang panas kok, jadi cepat redanya.

05.23, kamar koper tanpa jaringan.
Menunggu adzan subuh, biar cepet sholat lanjut tidur, kepalaku masih nanar, sepertinya dua hari lagi aku memilih bekam.

Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...