Minggu, 28 Februari 2021

Segala Hal


Ah, sungguh Cinta Allah pada hamba-Nya
Sungguh, tak kan pernah tertandingi

Perenunganku tak usai usai, sebab tragedi sedih tak berkesudahan di awal bulan membuat akhir bulan ku kacau, ada pencapaian yang belum tergapai. Target yang tak selesai, dan satu, aku mendapati pikiran yang tak sesuai.

Hah, sudah sudah cukup peratapannya, mari bangun, bangkit dan berlari, sungguh disana, disana, Ridho Allah menanti.

Ya, kitab hijau ini, adalah kitab saku yang berisi matan matan tajwid, penunjang cintaku dengan Qur'an, aku janji akan menghabiskan kebersamaan di januari. Sedang ada masalah pada diri, pada hati. Kecewa dengan diri sendiri sempat menghampiri, tapi sekali lagi, kalau bukan aku yang mencintainya, siapa lagi?
 Aku mengubah untuk bisa menghabiskannya akhir Februari.

Qodarullah, detik ini, di awal Maret ini, masih ada ratusan bait menunggu untuk di bersamai, dan sekitarku, guruku mulai menagih.

Allah mengatur segala urusan hambanya sedetail mungkin.

Pekan pekan ini adalah pekan ujian bagi Mahasiswa Azhar, namun berbeda dengan aku dan teman teman sekelasku di Mutaqoddim Ma'had Bu'uts, jadwal ujian kami belum turun, karena memang katanya kami harus menunggu sampai turun jadwal ujian akselerasi, barulah aku akan kebakaran dengan seluruh materi yang belum pernah otakku kenali.

Maka, pertemuan dengan Syekh di hari ahad, akan kami ambil alih, sekitar enam sampai tujuh orang yang memang seluruhnya adalah santri tahsin dan qiroat, yang bisa menghabiskan sejam dua jam untuk sendiri,
 ah nikmat apa lagi yang kau dustakan hei?

Syekh menyuruhku menyiapkan lima sampai enam juz dengan bacaan Imam 'Ashim untuk di setorkan di hari itu, dimulai dari juz 21 dan lima juz setelahnya.

Mendengarnya :)
10 juz terakhir itu Doi, yang sungguh sampai kini, aku belum berdamai lagi.

Tak apa, ini kasih sayang Allah, agar aku bisa berlari mengejarnya, membersamainya tanpa henti, dann mengubahnya menjadi yang paling tertancapp dalam hati.

Sedang masih ada Matan Salsabil berwarna hijau yang juga menunggu, jadi ku mulai lari ku, sungguh, meski sudah sangat terlambat.

Aku memutuskan untuk menghabiskan siang hingga adzan maghrib berkumandang untuk mengejar matan, lalu menyiapkan setoran di malam harinya. Tapi aku candu, target nya belum tercapai hingga maghrib, buku kecil hijau ini masih di genggaman, sampai terhantui fikiran ku kekhawatiran tentang rawannya 10 juz akhir itu.

"Tapi aku udah ngelancarin ini dari berminggu minggu lalu" gumamku.

Hei fa, justru itu.

Sampai pada akhirnya aku terburu buru dengan adzan isya, menaruh buku ini sembarangan dan mengambil air wudhu.
Selepas sholat aku mencarinya, untuk melihat satu atau dua bab lagi, tapi kandas

Aku mencarinya dengan kacau, padahal aku yakin sekali rak hitam adalah pendaratan terakhir.

:D sepertinya disembunyikan Allah,
Agar aku tidak menggantungkan juz 21, Tuhanku paham benar keadaan otak ku, sungguh paham benar.

"Baiklahhh, akan kubersamai engkau wahai 10 juz terakhiiir"

Omong kosong, kasur tergelar lengkap dengan selimutnya tepat setelah sholat isya, terancam sekali begadang ku.

Yaps, aku mendapati pagi gelagapan kebakaran, setelah Halaqoh Muroja'ah 5 juz, aku baru sadar aku belum siap, dengan urutan setoran pertama.

Berakhir dengan pertanyaan bertubi tubi

"Ma biki ya Azfa?"

Hahaha, aku menertawakan diri sendiri
Aku hanya sempat menyetorkan 5 surat, tapi tetap dijanjikan untuk khatam minggu ini, 
caranya? mari kita serahkan saja.

Pulangnya Syekh dari apart kami,
Aku
Dengan lucunya menemukan Buku Matanku
Yang seperti tiba tiba muncul di rak hitam, tepat seperti apa yang kuingat, tempat terakhir ia mendarat. Sungguh, seperti ditutupi, di hindari dari aku agar berpaling dan melancarkan setoran.

: )
Manis sekali.
Allah benar benar mengatur segala hal dalam hidupmu, benar benar segala hal.




2 komentar:

  1. panas hati ini saat membaca cinta yg intens denganNya,Allah di setiap langkahmu ya pemudi² penjaga kalamulullah. Doakan kami yg masih bertatih dlm juang.

    BalasHapus

Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...