Jumat, 03 Juli 2020

Pandemi? Apa kabar Diri?

2020

Kalau dengar kata itu, hal pertama yang terlintas di fikiranku, adalah Pandemi,
bagaimana tidak? Fikir, Hati dan Diri semua terfokus pada semua ini, Bertanya -tanya, apa sebenarnya maksud Tuhan menskenariokan keadaan ini?.

Teori - teori berseliweran, dari kabar penimbun masker, berita ribuan jiwa menghadap Tuhannya, sampai ada yang bilang, semua ini dusta, Konspirasi katanya. 

Sampai aku bingung dalam memilah, Mana dusta? Mana Fakta?

Entahlah, fikirku kini satu, Mungkin Tuhan bosan melihat betapa kotornya Bumi ini, sebab itu Ia menyeleksi mana yang masih pantas untuk bertahan berjalan di bawah terik Matahari, dan mana yang sudah pantas untuk "Kembali", Dikubur bumi

Keduanya setara, tidak ada yang Lebih baik, atau lebih buruk. Hanya saja Tuhan sedang memilihkan 2 piihan untuk Manusia, yang mana ketika sudah sebuah pilihan dipilihkan Tuhan untuk hamba-Nya, itulah pilihan terbaik, itulah ketentuan terbaik.

Tugas kita sekarang? kita yang masih Tuhan beri kesempatan untuk menginjak bumi. Apalagi? Kalau bukan menjalani kehidupan dengan alasan yang di berikan Tuhan, kenapa kita diciptakan? Apalagi?? Kalau bukan menghamba, menghamba dan menghamba??.

Disini segalanya di pertanyakan, Otak, Hati dan Raga,

Apa kabarmu wahai Diri?
Bagaimana tugas dari Tuhanmu?
Apa yang terjadi dengan Penghambaanmu?

Disaat pertemuan antar hamba terhalang, Ketika seluruh batas antara diri dan Tuhan telah kandas, KAMU ADA DIMANA?

Wahai diri, jangan jadi kotoran bumi, jangan jadi sampah negeri
Pandemi adalah jalan terbaik yang Tuhan beri,
Ia melihat mana saja nikmat dari-Nya yang sudah Kau Syukuri?

Wahai diri, jangan jadi Hamba tak tahu diri!
Diberi Beribu Nikmat
Kau balas dengan Maksiat.

Wahai diri, biarlah seluruh manusia sibuk dengan memuaskan tawa, lewat fasilitas duniawi
 yang makin kesini menambah sampah dunia, 
Kamu, Menangislah, Merengeklah pada Tuhanmu.
Maka, suatu hari nanti, Tawa mu akan terasa lebih Indah,
dari tawa mereka yang fana.

Selamat Bercengkrama dengan Sang Pencipta!
Di Pandemi penuh Drama!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Kesepian

Menemani Rintik Hujan pada Sabtu malam Sudut taman, Sendirian.. Aku Kesepian.. Ketika dua insan berpayung dibawah Rintik Hujan. Ak...